Formulasi Sediaan Sabun Padat Dari Ekstrak Etanol Daun Kelor (Moringa Oleifera L.)

  • Ade Irma Fitria Ningsih Fakultas Ilmu Kesehatan Universitas Nahdlatul Wathan Mataram
  • Ika Andhyka Fakultas Ilmu Kesehatan Universitas Nahdlatul Wathan Mataram
  • M. Rasyid Fakultas Ilmu Kesehatan Universitas Nahdlatul Wathan Mataram
Kata Kunci: Ekstrak daun kelor, pH, Organoleptis, Daya busa

Abstrak

Sabun tidak hanya sebatas sebagai kosmetika saja, tetapi telah berkembang memnjadi produk kesehatan yaitu sabun yang mengandung zat anti inflamasi. Salah satu tanaman yang mengadung efek anti inflamasi adalah kelor. Konsumen beranggapan sabun dengan busa yang melimpah mempunyai kemampuan membersihkan kotoran yang baik. Busa yang melimpah dapat diperoleh dari penggunaan foaming agent, yaitu surfaktan. Pembuatan formulasi sabun ini bertujuan untuk mengetahui formulasi sabun dari ekstrak etanol daun kelor dapat memenuhi karakteristik sifat fisik sabun.

Sabun ekstrak etanol daun kelor dibuat menjadi empat formulasi yaitu formulasi I: 20 gram minyak kelapa dan 0,1% ekstrak etanol daun kelor, formulasi II: 20 gram minyak kelapa dan 0,2% ekstrak etanol daun kelor, formulasi III: 40 gram minyak kelapa dan 0,1% ekstrak etanol daun kelor, formulasi IV: 40 gramĀ  minyak kelapa dan 0,2% ekstrak etanol daun kelor. Metode yang digunakan dalam membuat ekstrak adalah metode masersi. Evaluasi pada sediaan meliputi uji pH, uji organoleptis dan uji daya busa yang dilakukan selam 6 hari. Hasil pH rata-rata dari formulasi I, II, III dan IV berturut-turut yaitu 10,6 : 10,3: 10,1 : 10,0. Hasil rata-rata daya busa dari formulasi I, II, III dan IV berturut-turut yaitu 10,8 : 15,1 : 18,1 : 19,6. Hasil uji kekerasan dapat disimpulkan bahwa semakin tinggi penambahan minyak kelapa maka akan menghasilkan sabun yang lunak. Hasil uji warna dapat disimpulkan bahwa semakin banyak ditambahkan ekstrak daun kelor maka warna sabun akan semakin coklat.

Referensi

Izhar, H., Sumiati, dan Moeljadi P., 2009, Analisis Sikap Konsumen Terhadap Atribut Sabun Mandi, Universitas Brawijaya, Malang
Krisnadi, Dudi A., 2008,Kelor Super Nutrisi. Kunduran : Pusat Informasi dan Pengembangan Tanaman Kelor Indonesia.
Kasor, F. (2015). Pengaruh Penggunaan Virgin Coconut Oil (VCO) Sebagai Emolient Terhadap Sifat Fisik dan Stabilitas Vitamin C Dalam Sabun Transparan, Skripsi, Sarjana Farmasi Universitas Muhammadiyah Surakarta, surakarta.
Notoatmojo,2010. Metode Penelitain Kesehatan. Jakarta: Rineka Cipta.
Qisti R. (2009). Sifat Kimia Sabun Transparan Dengan Penambahan Madu Pada Konsentrasi Yang Berbeda. http://www.scrib.com/doc/1132977/Sabun-Mandi. Diases pada tanggal 21 maret 2013.
Schramm, L.L., 2005,Emulsion, Foams, and Suspensions, 7, Wiley-VCH Verlag GmbH&Co.KGaA, Weinheim
Tadros, T.F., 2005, Applied Surfactants: Principles and Applications, 1, 91-92, 259, WILEY-VCH Verlag GmbH & Co. KGaA, Weinheim
Thibodeau, A., and Amari, S., 2009, Maintenance and Repair of the Hydrolipidic Film with Skin Molecular Mimetic Emollients and Surfactants, Laporan Penelitian, Cosmetics Science Technology B&T Company, Italy
Diterbitkan
2017-09-04