Hubungan Tinggi Badan Ibu Dengan Kejadian Stunting Pada Anak Usia 6-23 Bulan
Abstract
Stunting merupakan masalah gizi kronis yang dapat mengakibatkan masalah jangka panjang seperti masalah hasil reproduksi, meningkatkan penyakit degenerative, menurunnya prestasi belajar, menurunnya produktifitas saat dewasa dan mengurangi pendapatan hingga 20%. Pendek (stunting) merupakan tragedi gunung es. Stunting merupakan dampak dari kekurangan gizi kronis selama 1000 hari pertama kehidupan anak. Stunting mengakibatkan masa dewasa yang sulit seperti rentan terhadap penyakit, penurunan intelejensi, kurang berpendidikan dan menurunnya pendapatan saat dewasa. Faktor risiko terjadinya stunting salah satunya adalah tinggi badan ibu. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk menganalisis hubungan tinggi badan ibu dengan kejadian stunting pada bayi usia 6-23 bulan. penelitian ini menggunakan rancangan case control, ukuran sampel dalam penelitian ini adalah 76 bayi (38 kasus dan 38 kontrol). Instrument yang digunakan adalah pengukur tinggi badan ibu dan bayi. Teknik pengambilan sampel menggunakan cluster sampling dan analisis data menggunakan chi square. Hasil penelitian ini menunjukkan jumlah ibu yang tingginya dibawah standar (≤ 145 cm), memiliki anak normal sebanyak 1 orang (2,6%). Sedangkan, ibu yang tingginya normal (≥ 146 cm) memiliki anak normal sebanyak 64 orang (84,2%). Setelah dianalisis diketahui tinggi badan ibu memiliki hubungan signifikan dengan kejadian stunting dilihat dari nilai p-value dibawah 0,05 (p=0,0002).
References
Balitbankes. (2013). Riset kesehatan dasar. Jakarta.
Dewey, K. G., & Begum, K. (2011). Long‐term consequences of stunting in early life. Maternal & child nutrition, 7(s3), 5-18.
Fitriahadi, E. (2018). Hubungan tinggi badan ibu dengan kejadian stunting pada balita usia 24-59 bulan. Jurnal Kebidanan dan Keperawatan Aisyiyah, 14(1), 15-24.
Nadiyah, N., Briawan, D., & Martianto, D. (2014). Faktor Risiko Stunting Pada Anak Usia 0—23 Bulan Di Provinsi Bali, Jawa Barat, Dan Nusa Tenggara Timur. Jurnal Gizi dan Pangan, 9(2).
Nasikhah, R., & Margawati, A. (2012). Faktor risiko kejadian stunting pada balita usia 24–36 bulan di Kecamatan Semarang Timur. Diponegoro University.
NTB, D. K. P. (2017). HAsil Pemantauan Status Gizi 2017.
Oktarina, Z., & Sudiarti, T. (2014). Faktor Risiko Stunting Pada Balita (24—59 Bulan) Di Sumatera. Jurnal Gizi dan Pangan, 8(3), 177-180.
Stewart, C. P., Iannotti, L., Dewey, K. G., Michaelsen, K. F., & Onyango, A. W. (2013). Contextualising complementary feeding in a broader framework for stunting prevention. Maternal & child nutrition, 9(S2), 27-45.
Trihono, Atmarita, Tjandrarini, D. H., Irawati, A., Utami, N. H., Tejayanti, T., & Nurlinawati, I. (2015). Pendek (Stuting) Di Indonesia, Masalah dan solusinya. Jakarta: Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan.
Waber, D. P., Bryce, C. P., Girard, J. M., Zichlin, M., Fitzmaurice, G. M., & Galler, J. R. (2014). Impaired IQ and academic skills in adults who experienced moderate to severe infantile malnutrition: a 40-year study. Nutritional neuroscience, 17(2), 58-64.
WHO. Nutrition Landscape Information System (NLIS) country profile indicators: Interpretation Guide.