Roah Ethnopedagogy of the Sasak Tribe
Abstract
Latar belakang dalam penulisan artikal ini adalah minimnya pemahaman generasi sekarang tentang roah sehingga sangat diperlukan kajian yang mengadakan pembahasan khusus tentang roah sebagai kearifan lokal suku Sasak.
Metode penelitian yang digunakan dengan menggunakan metode penelitian kualitatif. Teknik pengumpulan data dengan menggunakan obervasi langsung dan wawancara langsung dari sumber data. Lokais kegiatan penelitian dilakukan di Desa Bonjeruk Kecamatan Jonggat Lombok Tengah. Pemilihan Desa Bonjeruk sebagai lokasi karena masih memelihara tradisi roah sesuai peninggalan nenek moyang.
Nilai etnopedagogi dalam kearifan lokal roah adalah mulai dari bentuk pawon dari timur ke barat dalam roah mati. Dari bentuk pawon ini memberikan pelajaran kepada semua warga yang hadir agar tidak tertawa terbahak-bahak karena orang sedang berduka. Jika bentuk pawon-nya dari selatan ke utara, memberikan pelajaran kepada semua warga yang hadir bisa tertawa terbahak-bahak karena orang sedang roah untuk orang hidup. Nilai etnopedagogi lainya adalah jangan memulai makan sebelum kyai mulai makan. Maknanya agar semua menjadi kenyang. Dan nilai etnopedagogi yang terakhir adalah jangan cuci tangan sebelum kyai cuci tangan. Setelah kyai mulai cuci tangan, semua warga cuci tangan, ini memliki tujuan untuk menghargai sesama. Dengan demikian, untuk mengetahui roah orang mati dan roah orang hidup dapat dikenal dari ciri-cirinya yaitu: bentuk pawon dan cara membariskan dulang yang disajikan kepada warga.
Kata Kunci: Etnopedagogi Roah Suku Sasak
